BADAK JAWA (Rhinoceros sondaicum)

Kali ini kita akan menuju provinsi Banten. Fauna identitas dari Banten adalah badak Jawa.  Badak Jawa sering di sebut dengan badak istilah badak bercula-satu kecil. Istilah latinnya adalah Rhinoceros sondaicus. meskipun di sebut badak Jawa, hewan ini tidak hanya terdapat di Pulau Jawa. Hewan ini dapat di temukan di seluruh nusantara, sepanjang Asia Tenggara, di India serta tiongkok. Badak ini pernah menjadi salah satu badak di Asia yang paling banyak menyebar. Namun sayang saat ini populsinya terancam punah.

Klasifikasi Badak Jawa
Kingdom       : Animalia
Phylum          : Chordata
Sub phylum   : Vertebrata
Super kelas    : Gnatostomata
Kelas             : Mammalia
Super ordo    : Mesaxonia
Ordo              : Perissodactyla
Super famili  : Rhinocerotides
Famili           : Rhinocerotidae
Genus           : Rhinoceros Linnaeus
Spesies         : Rhinoceros sondaicus Desmarest

badak jawa

Badak Jawa kulitnya bermozaik alamai menyerupai baju baja atau perisai. Bulunya yang berwarna abu-abu atau abu-abu coklat membungkus pundak, punggung dan pantatnya. Pembungkus leher badak Jawa lebih kecil dari badak India, tetapi tetap membentuk pelana pada pundak. Panjang tubuhnya sekitar 310-320 cm dan tingginya 140 -170 cm. Badak ini lebih kecil dari badak India dan hampir sama dengan badak hitam. Berat tubuh badak dewasa antara 900 hingga 2300 kilogram. Ukuran culanya biasanya kurang dari 20 cm, lebih kecil daripada cula badak lainnya. Masa hidup badak Jawa adalah selama 30-45 tahun. Badak Jawa memiliki bibir atas yang panjang dan tinggi untuk membantunya mengambil makanan. Gigi serinya panjang dan tajam. Mereka menggunakan gigi ini ketika sedang bertempur. Di belakang gigi seri, terdapat enam geraham panjang yang di gunakan untuk mengunyah tanaman kasar. Seperti semua badak, badak Jawa memiliki penciuman dan pendengaran yang baik. Tetapi sayang, pandangan matanya buruk.

Badak Jawa termasuk hewan herbivora. Mereka makan bermacam-macam spesies tanaman, terutama tunas, ranting, daun-daunnan muda, dan buah yang jatuh. Kebanyakan tumbuhan yang mereka sukai tumbuh di daerah yang terkena sinar matahari. Badak menjatuhkan pohon muda untuk mencapai makanya dan mengambilnya dengan bibir atasnya yang dapat memegang. Badak Jawa adalah pemakan yang paling dapat beradaptasi dari semua spesies badak. Badak diperkirakan makan 50 kg makanan per hari.

Badak Jawa mempunyai sifat yang tenang, kecuali badak betina saat berkembang biak dan mengasuh anaknya. Badak dewasa tidak memiliki pemangsa sebagai musuhnya. Mereka biasanya menghindari manusia, tetapi akan menyerang jika merasa terganggu. Ketika manusia terlalu dekat, badak ini akan menjadi agresif dan akan menyerang. Mereka menikam dengan gigi serinya di rahang bawah sementara menikam ke atas dengan kepalanya.

Badak ini juga sering berkerumun pada kelompok kecil di tempat mencari mineral dan kubangan lumpur. Berkubang di lumpur adalah sifat umum semua badak. Tujuan dari berkubang adalah untuk menjaga suhu tubuh dan membantu mencegah penyakit dan parasit. Badak Jawa tidak menggali kubangan lumpur sendiri.  Mereka lebih senang menggunakan kubangan hewan lain atau lubang yang muncul secara alami. Untuk memperbesar lubang tersebut mereka menggunakan culanya. Tempat mencari mineral juga sangat penting karena nutrisi untuk badak di terima dari garam.
Badak hidup di hutan hujan dataran rendah, Padang rumput basah, dan daerah dataran banjir besar atau daerah basah dengan banyak kubangan lumpur. Wilayah badak jantan lebih besar si bandingkan betina. Besar wilayah jantan antara 12-20 km dan wilayah betina diperkirakan 3-14 km. Badak jantan menandai wilayah mereka dengan tumpukan kotoran dan percikan urin. Goresan yang di buat oleh kaki di tanah dan galungan pohon muda juga di gunakan untuk komunikasi.


Spesies ini kini statusnya kritis, hanya sedikit populasi yang di temukan di alam bebas. Populasi yang masih tersisa di Taman Nasional Ujung Kulon di pulau Jawa. Hanya sekitar 40-50 ekor. Selain itu di Taman Nasional Cat Tien, Vietnam populasi di perkiraan tak lebih dari 8 ekor pada tahun 2007.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan berkurang populasi badak di pulau jawa. Pertama adalah perburuan. Badak Jawa di buru untuk di ambil culanya. Cula badak sangat berharga untuk pengobatan tradisional tiongkok. Penyebab kedua adalah hilangnya habitat, terutama akibat perang. Perang Vietnam di Asia Tenggara merupakan salah satu penyebab berkurangnya populasi badak Jawa. Penyebab lainnya adalah serangan penyakit, invasi lengkap, koperasi dengan Banteng untuk memperebutkan tempat dan sumber makanan, menciutnya keragaman genetik sehingga perkembangbiakan terganggu serta ancaman bencana alam seperti tsunami, letusan gunung berapi dan gempa bumi.
Bagikan :
+
Next
This is the current newest page
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "BADAK JAWA (Rhinoceros sondaicum)"

Trending Post

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top